Bab 3 (Chapter 2)

June 12, 2016

Tukang Bubur

Somad pergi ke rumah Vani siang itu. Dia menceritakan apa yang ditemukannya pagi ini pada Vani. Sebenarnya ia bisa saja memberitahu Vani kalau mereka satu sekolah. Namun mereka berbeda sekolah. Mama Vani memasukkan dia ke TK Bina Ria yang lebih jauh. Sebenarnya Somad juga awalnya dimasukkan ke TK itu oleh Ibunya. Namun ia tidak diterima disana karena kuotanya sudah penuh, karena Ibunya terlalu malas untuk mendaftarkannya lebih awal. Jadilah mereka berbeda sekolah.

“Van, tadi aku liat ada pasar malem mau buka nanti malem di lapangan.”

“Pasar malem ki apa?”

“Pasar malem ki pasar yang cuma buka pas malem. Isine beda sama Pasar Ngaliyan. Cuma ada jajanan sama mainan tok katane. Nanti malem aku mau kesana sama Ibuku.”

“Aku juga ikut. Ma, aku nanti malem mau ke pasar malem bareng Somad ya?”

Mama Vani menghampiri mereka dan menjawab, “Ya, nanti mama juga mau kesana kok. Udah makan, Mad?”

“Udah mah,” Jawab Somad.

“Masak apa tantemu?”

“Ndak masak, tadi pagi beli lauk di tempate Bu Bambang.”

“Nih bawain ke tempatmu, Mad,” Mama Vani menimpali sambil berjalan ke dapur. Kemudian dia membungkus sayur tempe dan beberapa bakwan yang dibuatnya.

“Nih kasih ke tantemu, bilang aja dari Mama.”

“Ya makasih, Ma.”

“Yuk, Mad, kerumahmu,” ajak Vani.

“Yuk.”

Kemudian mereka berdua keluar dan menyeberang ke rumah Somad.

Tante Somad berumur 18 tahun. Dia lulus SMA tahun lalu. Waktu SMA dia ikut ekstrakurikuler Karate. Dia pernah ikut kejuaraan karate tingkat kabupaten dan berhasil juara 2. Mungkin karena itulah tubuhnya tinggi dan atletis. Matanya melengkung seperti Vani dan rambutnya pendek sepundak. Dia tidak ingin kuliah seperti kakaknya. Dia ingin langsung kerja, tetapi karena mencari selama 1 tahun tidak kunjung dapat pekerjaan, akhirnya dia menghabiskan waktu dengan ikut kursus komputer di Semarang. Karena itulah ia sekarang berada di rumah Somad. Daripada sewa kos, lebih baik ikut di rumah kakak. Selain irit, juga bisa membantu mengasuh Somad yang sering ditinggal kuliah kakaknya. Begitu pikirnya. Siang itu dia sedang melihat TV saat Somad membawa dua bungkusan di tangannya bersama Vani.

“Nih dari Mamahe Vani tadi ngasih.”

“Oh, ya, makasih ya, Van.”

“Ya sama-sama.”

“Tante nanti mau ikut juga ke pasar malem?” Tanya Vani pada Tante.

“Iya, mau main-main.”

“Main apa?”

“Macem- macem, liat aja nanti. Ada komidi putar, kuda- kudaan, banyak pokoknya.”

“Aku pengen naik kuda- kudaan nanti, kamu mau naik apa, Mad?”

“Ya kuda- kudaan juga. Semuanya aja nanti.”

“Emange koe berani, Mad? Sama tukang bubur ae takut,” goda tantenya.

“Hihihi, Somad wes gedhe masih takut sama tukang bubur,” sambung Vani.

“Wes ndak ya.”

“Kok kamu takut sama tukang bubur to, Mad?” Tanya Vani.

“Mukane medeni og.”

Tukang bubur yang mereka maksud adalah ibu paruh baya penjual bubur sumsum keliling yang biasa datang ke Karonsih saat sore hari. Ibu itu tubuhnya pendek, rambutnya putih. Tiap sore ia berkeliling sekitar Karonsih menjajakan bubur sumsum yang digendong di punggungnya menggunakan keranjang bambu. Saat tukang bubur datang ia pasti mengeluarkan suara khas agar para warga mengetahui kedatangannya.

“BUBOOR BUBOOR!!! BUBOR BUUU!!”

Jika sudah dekat, Somad akan langsung berteriak “MBOTEEEEN!!” sekencang mungkin supaya dia menjauh. Somad sebenarnya suka dengan bubur sumsum yang dijual oleh tukang bubur itu. Namun wajah tukang bubur itu menakutinya. Meskipun begitu ia sangat baik. Ia selalu tersenyum saat melayani pelanggannya. Dagangannya selalu habis setiap hari. Semoga tukang bubur itu bisa cepat naik haji dengan hanya berjualan bubur.

Saat mereka sedang asik mengobrol, tiba- tiba suara motor Ibu Somad terdengar. Somad segera keluar. Vani mengikuti di belakangnya.

“Bu, tadi aku liat ada pasar malem baru di lapangan. Nanti kesana ya?”

“Iya tadi Ibu juga liat, ya nanti kesana.”

“Aku nanti juga mau kesana sama Mama,” kata Vani.

“Iya to? Nanti kesana bareng ae,” jawab Ibu.

Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah.

———————

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cara Ampuh Usir Semut di Kamar

Cara Ampuh Usir Semut di Kamar

Semut emang kecil, kita injek juga bakal mati. Tapi biasanya mereka tuh munculnya barengan banget, kaya demo. Karena kecil- kecil terus banyak juga ngeliatnya...