Bab 2 (Chapter 4)

May 29, 2016

Sahabat

Vani adalah seorang anak perempuan yang periang. Matanya melengkung, kulitnya putih, dan rambutnya panjang berponi. Somad dan kawan-kawannya memanggilnya poniyem karena hal itu. Julukan itu tak masalah buatnya, karena dia memang berponi dan dia bangga dengan poninya itu. Rumah Vani berseberangan dengan rumah Somad. Ibu mereka berdua merupakan sahabat baik. Ibu Somad sering berkunjung ke rumah Vani. Sejak saat itulah Somad dan Vani menjadi teman. Mereka sering bermain catur atau ular tangga di rumah Vani ketika ibu mereka berdua sedang asik mengobrol. Sebelum Tante Somad tinggal di rumah Somad, ia sering dititipkan di rumah Vani ketika Ibu Somad kuliah. Makin akrablah mereka.

Siang itu Somad dan Vani makan roti ulang tahun di rumah Vani, setelah Somad diculik oleh Vani dari teman-temannya. Roti ulang tahun merupakan cake yang dihias oleh berbagai macam toping. Walaupun bukan dibuat untuk merayakan ulang tahun seseorang, Somad dan Vani selalu menyebut cake yang dihias itu sebagai roti ulang tahun. Entah sejak kapan mereka menyebutnya seperti itu.

“Tadi uangku ilang, Mad. Kayak’e tadi jatuh di jalan pas pulang sekolah.”

Kata-kata tersebut membuat nafsu makan Somad melayang. Roti ulang tahun yang lezat itu menjadi hambar. Dadanya berdegup kencang. Dia merasa terkejut, kemudian merasa bingung dan takut.

“Coba dicari lagi to, Van. Keselip di tas kali.”

“Udah tak cari dimana-mana ndak ada. Mungkin memang tadi jatuh di jalan soale terakhir tak kantongi, Mad.”

Somad diam sambil cepat-cepat menghabiskan roti ulang tahun bagiannya. Dia merasa tidak nyaman berada di rumah Vani. Saking cepatnya dia makan, dia sampai tersedak.

“Uhuk! Uhuk!”

“Ping. Jangan kecepeten makane. Masi banyak rotine og, Mad. Nek kurang masi bisa nambah to Ma?”

Mama Vani menghampiri mereka berdua. Somad makin salah tingkah.

“Ibumu nanti katanya pulang jam 4 sorean katanya, Mad. Tadi telpon Mama.”

“Oh… Iya.”

Setelah menghabiskan bagiannya tanpa mengucapkan sepatah kata, Somad kemudian berkata, “Aku mau pulang dulu ya, ngantuk pengen bobo sek.”

“Main ular tangga sebentar sek, Mad.”

“Ndak ah, aku wes ngantuk. Capek he.”

Vani dan Mamanya yang kenal betul dengan Somad menyadari tingkah laku Somad yang berbeda dari biasanya.

“Kamu kenapa to, Mad?”

“Ndak papa cuma ngantuk tok.”

“Ya udah pulang istirahat aja.”

“Yo tak anterin,” ajak Vani.

Kemudian mereka berdua pergi ke rumah Somad.

“Kamu pulang aja, Van. Aku mau bobo sek.”

“Ya udah.”

Somad masuk ke dalam kamarnya. Uang 500 rupiah yang ditemukannya tadi diambil dari celana dalamnya. Sambil menatap uang itu di dalam kasur, dia berkata dalam hati, “Ndak punya uang susah, punya uang juga susah.”

“Kalau dikembaliin ke Vani, besok aku ndak isa main gimbot. Tapi Vani nanti kasian kalau uange ndak ketemu. Tapi nanti kalau Vani tau kalau aku nemu terus ndak bilang-bilang dari awal dia bisa marah.”

Dalam hatinya dia menyayangi Vani. Vani sudah merupakan teman baik baginya, teman bermain yang selalu ingat padanya. Kemungkinan terakhir yang ia pikirkan- Vani marah karena tidak memberitahu lebih awal tentang hal itu- membuatnya bersedih. Terakhir kali Vani marah, dia tidak mengajak bermain Somad selama 3 hari. Selama 3 hari itu Somad merasa bersalah, dia juga takut untuk bertemu dengan Vani. Bermain pun terasa tak menyenangkan. Sampai akhirnya Ibunya mengajaknya ke rumah Vani. Saat sampai di rumahnya, tiba-tiba Vani mengajak Somad bermain catur seperti biasanya. Dengan perasaan canggung Somad menerimanya. Mereka akhirnya akrab kembali setelah itu, melupakan kejadian yang membuat mereka saling menjauh satu sama lain.

Memikirkan hal tersebut Somad jadi mengantuk dan akhirya tidur sambil menggenggam uang itu. Saat bangun Somad terkejut uang yang ada dalam genggamannya hilang. Dia mencari-cari di kasur tetapi tidak menemukannya. Kemudian dia melihat ke arah meja belajarnya, ternyata di sana uang tersebut.

“Kok isa di sini, to?” pikir Somad.

Kemudian Somad keluar kamar dan mendapati Ibunya sedang menonton TV.

“Itu uang limaratuse siapa, Mad?” Tanya ibunya.

Ternyata Ibunya tadi yang memindahkan uang itu ke meja belajar. Sebenarnya Somad ingin merahasiakan uang itu dari Ibunya karena takut uang itu akan diambil Ibunya, seperti uang angpao Idul Fitri yang didapatnya tahun kemarin. Ibunya melakukan hal itu karena tidak ingin Somad boros memakai uang untuk membeli hal-hal yang tidak perlu. Karena walau Somad sudah diberitahu untuk berhemat, uangnya selalu habis untuk membeli sesuatu. Uang itu akan diberikan kembali ke Somad jika dia memiliki alasan untuk apa uang itu akan dipakai, dan jika alasan itu cukup ‘masuk akal’ untuk ibunya, dia memberikannya. Karena sudah terlanjut ketahuan, dia mengaku,

“Tadi aku nemu di jalan. Tapi kayake ini uange Vani yang ilang. Tadi Vani ngomong kalau uange ilang.”

“Yowes kembaliin.”

“Udah terlanjur ndak bilang, Bu. Nanti dia marah kalau aku yang ngembaliin. Ibu aja yang ngembaliin. Aku kasian sama Vani.”

“Tinggal kembaliin. Ndak akan marah, coba aja. Cepetan.”

Sepertinya tidur siang tadi memberinya wahyu untuk mengembalikan uang itu ke Vani. Apalagi setelah ketahuan oleh Ibunya. Jika dia tidak mengaku itu uang yang ditemukannya di jalan dan Vani memberitahu Ibunya kalau uangnya hilang, Ibu dan Vani akan marah. Itu lebih buruk!

“Yowes, aku tak kerumah Vani sek.”

“Maghrib pulang ya!” Teriak Ibunya.

Sesampainya di rumah Vani, ia langsung menyodorkan uang Rp500 itu kepada Vani.

“Nih tadi aku nemu uangmu di jalan. Maaf tadi ndak bilang-bilang,” kata Somad dengan muka bersalah.

“Itu bukan uangku. Tadi uangku yang ilang cepek. Udah diganti sama Mama.”

“Loh, jadi ini uange sapa?”

“Ndak tau. Mah, ini Somad nemu uang gopek!” Teriak Vani.

Mama Vani datang menghampiri mereka.

“Oh jadi tadi kamu pulang gara-gara itu to, hahaha. Dikira dia nemu uangmu, Van. Terus ndak bilang-bilang biar isa dipake sendiri.”

“Oalah ndak papa, Mad. Haruse kamu bilang aja. Aku ndak akan marah kok.”

Somad salah tingkah lagi. Perasaannya bercampur aduk. Namun demikian, dia merasa lega. Lega karena uang Vani sudah kembali dan dia tidak marah. Kemudian dengan spontan dia mengajak Vani untuk membeli jajan memakai uang yang ditemukannya itu. Mereka berdua pergi ke warung sambil bercanda. Sepasang sahabat sejati. Anak kecil memang jagonya berteman.

————————————

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cara Ampuh Usir Semut di Kamar

Cara Ampuh Usir Semut di Kamar

Semut emang kecil, kita injek juga bakal mati. Tapi biasanya mereka tuh munculnya barengan banget, kaya demo. Karena kecil- kecil terus banyak juga ngeliatnya...