Karonsih
Karonsih adalah salah salah satu daerah di Kota Semarang yang konturnya tak rata alias berbukit. Pada saat itu, daerah Karonsih kebanyakan masih berupa lahan perbukitan yang sedang dibuka untuk pembangunan perumahan. Untuk masuk ke wilayah Karonsih seingat saya terdapat 2 jalur. Pertama lewat pertigaan Pasar Ngaliyan, Kedua melalui pertigaan SMP 16 Ngaliyan, semuanya mengarah ke tenggara. Rumah Somad berada di bagian puncak wilayah Karonsih, tepatnya di jalan Karonsih Selatan. Walaupun berada di bagian puncak bukit, rumah Somad selalu kebanjiran pada musim hujan karena letak rumahnya yang berada di bawah jalan utama. Hal ini mengakibatkan got depan rumahnya lebih pendek tingginya dan jika hujan deras sudah pasti meluap ke arah rumah Somad. Karena seringnya Rumah Somad tergenang air, jika hujan deras pasti banyak yang bertanya ke Orang tua Somad, “Banjir rak, Bu?”. Sebenarnya sudah banyak yang dilakukan oleh sang pemilik rumah untuk membuat rumah itu tahan banjir, tetapi tetap saja masih banjir kalau hujan deras datang terus-menerus. Aneh memang ada rumah di atas bukit yang kalau hujan kebanjiran, itulah rumah Somad.
————
Walaupun letaknya di atas bukit, cuaca di sini sepanas Semarang yang lain. “Panase rak umum”, kata Somad yang mengeluh di siang hari itu. Ia berjalan ke rumah Dani untuk mengajaknya bermain. Sesampainya di rumah Dani, ternyata sudah banyak teman-temannya yang lain di sana.
“Heh, liat buldozer yuk,” ajak Somad.
“Yowes, yuk. Aku tak pipis dulu,” kata Egar yang langsung melorotkan celananya sambil pipis di got depan rumah Dani.
Saat Egar sedang asik-asiknya pipis, Mamol menggelitik tubuhnya, sehingga air kencingnya muncrat kemana-mana.
“Hahahaha!!!” Somad, Dani, dan Mamol tertawa lepas.
“Asem lah, Mol! Jangan kaya gitu lah,” Bentak Egar sambil memakai celananya yang sedikit basah terkena pipisnya.
“Hahaha, koe juga kena pipise Mol,” Egar tertawa sambil menunjuk kaki kanan Mamol yang basah terkena air pipisnya.
“Asem, hahahaha!” Mamol tertawa sambil mencuci kaki kanannya di keran halaman depan rumah Dani.
“Wes yok mangkat,” ajak Egar.
“Yok!!!”
Mereka bertiga akhirnya berangkat.
————
Pada tahun 1995 di Karonsih masih banyak bukit yang penuh dengan pohon-pohon hijau. Walau tak selebat Hutan Amazon, namun jika dilihat dari jauh masih terlihat hijau. Sejak awal tahun 1996, mulai banyak pembukaan lahan di bukit untuk dibangun perumahan. Bukit yang dulu hijau sekarang menjadi lautan tanah coklat dengan titik-titik kuning jika dipandang dari kejauhan. Titik-titik kuning itu adalah alat-alat berat yang dipakai untuk membuka lahan, membabat habis hutan dan meratakan bukit agar bisa ditanami ‘tanaman baru’ yang ditanam oleh developer perumahan. Bagi anak-anak yang tinggal di Karonsih, hal tersebut merupakan hiburan baru. Melihat buldozer kuning bekerja seperti melihat robot power ranger yang sedang beraksi. Tidak ada pagar pembatas untuk mencegah anak-anak masuk ke dalam wilayah yang sedang dipermak itu. Jadi lumayan banyak anak-anak yang bermain di sana. Para pekerja juga mengacuhkan mereka. Namun jika mereka terlalu dekat dengan robot kuning itu, sang mandor akan membentak mengusir mereka. Para anak-anak tidak tahu mandor itu apa, mereka menganggap dan memanggil mereka bos. Mereka mengira kalau para mandor itu si empunya robot-robot kuning itu. Di sore hari para pekerja berhenti, mereka pulang meninggalkan robot kuning itu disana tanpa pengawasan. Saat-saat itulah yang ditunggu anak-anak yang sedang berkunjung. Melihat-lihat dan mengagumi dari dekat robot- robot besar sambil bermain di sekitarnya.
———————————————–



0 Comments