Bab 2 (Chapter 1)

May 8, 2016

Perkenalan

Mohamad Iskandar adalah seorang bocah berumur 7 tahun. Rambutnya cokelat kemerahan dan lurus, gaya rambutnya selalu belah tengah, walaupun saat sisiran dia selalu menyisir ke belakang. Tantenya menyebut gaya rambut itu ala mister Hirano. Ia tak kenal Mister Hirano, yang pasti dia aktor dari negeri Cina, karena tantenya selalu bilang begitu. Tubuhnya kurus, bola matanya hitam dan matanya agak besar. Mata Belo, lagi-lagi tantenya yang memberikan julukan itu kepadanya. Ia tak keberatan dipanggil apapun oleh tantenya. Dia juga sering dipanggil Gedol oleh tantenya, entah apa artinya. “Hanya Tuhan dan tantenya yang tahu,” pikirnya. Sedangkan nama panggilan resmi yang diberikan oleh bapak ibunya adalah Somad. Waktu berkenalan dengab teman-temannya iapun mengaku bernama Somad, jadi sampai saat ini dia dipanggil Somad oleh teman-temannya.

Somad adalah anak bungsu, dia hanya punya satu adik yang masih berumur 4 tahun. Bapaknya bekerja jadi mandor di perusahaan air minum. Ibunya masih kuliah jurusan tata busana di UNES. Setiap hari dia di rumah bersama tantenya, yang pengangguran.

Somad tinggal di Karonsih, suatu pemukiman perbukitan di daerah Semarang. Somad punya banyak teman di sana dan bersekolah di TK Golek Kepinteran yang jaraknya satu kilometer dari rumahnya. Tiap hari ia dan teman-temannya berjalan kaki bersama dari rumah ke sekolahnya itu. Sepulang sekolah dia biasanya bermain dahulu bersama teman-temannya. Kadang mencari yuyu di sungai, kadang jalan-jalan sampai Pasar Ngaliyan atau depan SD Kampus hanya untuk melihat-lihat lapak pedagang mainan dan tentunya melihat orang main gimbot sewaan. Somad jarang bermain gimbot itu karena biaya sewanya duaratus rupiah per sepuluh menit. Sedangkan dia cuma diberi uang seratus rupiah per hari oleh bapaknya. Teman-temannya juga bernasib sama, hanya sering nongkrong di belakang orang bermain gimbot. Itu karena mereka sering menghabiskan uang jajannya di sekolah untuk membeli jajan. Kalaupun masih ada sisa, pasti selalu untuk membeli kartu karakter kartun atau superhero jepang yang dijual di depan Pasar Ngaliyan dan di depan SD Kampus. Kartu-kartu itu kemudian mereka adu, dalam tos-an atau umbul. Kalau menang, pihak yang kalah harus memberikan 1 kartu sebagai hadiah untuk si pemenang, bisa kartu pilihan si pemenang, atau kartu gacu yang kalah. Tergantung kesepakatan bersama sebelum permainan dimulai.

Hari ini setelah pulang sekolah dan jalan-jalan bersama teman sekolahnya, Somad pulang dengan membawa uang 500 rupiah. Uang itu ia temukan di jalan pulang. Ia sangat senang bisa mendapatkan uang sebanyak itu, “Untung tadi sendirian, kalo ndak, mesti harus bagi-bagi sama yang lain,” pikirnya dalam hati.

Sesampainya di rumah, ia langsung pergi ke kamar dan menutup pintu. Kemudian ia tiduran di kasur memandangi uang itu sambil mengancang-ancang untuk berimajinasi bahwa besok sepulang sekolah ia akan bermain gimbot sepuasnya di depan SD kampus. Namun tiba-tiba pintu kamarnya dibuka oleh tantenya,

“Dari mana, Mad? Tuh ada eskrim tadi tante beli.”

“Dari sekolah lah, main dulu tadi sama Joko, sama yang lain juga si,” kata Somad kaget sambil bangun dari kasurnya.

“Oh, yaudah tuh eskrimnya di kulkas.”

“Ya,” Jawab Somad.

“Fiuh, untung tadi tidur miring membelakangi pintu kamar, jadi aman ni duit,” kata Somad dalam hati.

Dia menatap sejenak uang 500 rupiah yang tergeletak di kasur kemudian menyimpannya di dalam celana dalamnya, “Kalau di cawet pasti aman lah,” pikirnya.

Setelah ia menghabiskan eskrim pemberian tantenya, ia pergi keluar untuk bermain.

——————————————

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cara Ampuh Usir Semut di Kamar

Cara Ampuh Usir Semut di Kamar

Semut emang kecil, kita injek juga bakal mati. Tapi biasanya mereka tuh munculnya barengan banget, kaya demo. Karena kecil- kecil terus banyak juga ngeliatnya...