Badan yang setengah basah kuyup oleh iler dan keringat itu membuat Somad agak kedinginan. Tetapi itu semua dia abaikan karena nikmatnya kasur kapuk yang seprainya sudah terlepas dari kasur gara-gara gerakannya saat tidur.
“Mad, bangun, Mad!!” kata bapaknya.
“Iya pak.” jawabnya sambil ‘ngulet’ dalam posisi tidur.
Sambil ‘kiyep-kiyep’ antara tidur dan terjaga, Somad masih ingat samar-samar mimpinya semalam. Dia jadi tasmanian devil dan bisa berputar-putar seperti gasing, mirip dengan gerakan khas tasmanian devil di kartun looney toones. Tetapi dalam mimpinya itu dia sama sekali tidak merasa bahagia, walaupun dalam dunia nyata cita-citanya adalah menjadi tasmanian devil.
“Cepetan, nanti telat berangkat sekolah” hentak bapaknya.
“Iya..” jawab Somad sambil bangun pelan-pelan dari kasurnya. Dia masih terngiang mimpi itu, tapi sekarang hanya samar-samar. “Pak Santo!!” dia berkata dalam hati. “Kenapa Pak Santo bisa masuk kamar, ya?”
Sebenarnya dalam mimpinya itu saat dia menelusuri tiap sisi rumah sambil berputar ala tasmanian devil, dia melihat Pak Santo sedang duduk di kasur kamarnya. Sosoknya tertawa, tawa yang terlihat menyenangkan sekilas, tapi akan jadi menakutkan kalau dilihat terus-menerus. Itulah saat-saat terakhir memori mimpinya semalam yang bisa dia ingat.
“Huaaahh!” teriaknya kedinginan disiram air dingin olehnya sendiri. Dia langsung fokus mandi saat itu dan melupakan mimpinya semalam.
“Byur byur byur, sabunan, byur byur byur, udah,” dia berkata pelan sambil memasang tampang berpikir.
Hari ini adalah hari pertamanya masuk SD.



0 Comments