Resensi Roman Salah Asuhan

May 31, 2012

SALAH ASUHAN


Data Buku :
Penulis : Abdul Moeis
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun Terbit : 1928
Halaman : 262 halaman
Berat Buku : 0.35
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi (LxP) : 15 x 21 cm

Latar Belakang

Novel Salah Asuhan ini sangat menarik untuk dibaca karena bila penulis-penulis lama umumnya bercerita tentang dewa-dewa, mambang dan peri-peri yang sifatnya fantasi, Abdul Moeis hadir dengan kisah yang berbeda. Ia bicara tentang masyarakat di zamannya. Dengan latar belakang lahir di Solok dan pernah sekolah di Europese Lagere School, Abdul Moeis berhasil membentangkan perkawinan antara Barat dan Timur dalam romannya ini. Namun dengan tetap memenangkan adat.

Sinopsis Novel Salah Asuhan

Hanafi, laki-laki muda asli Minangkabau, berpendidikan tinggi dan berpandangan kebarat-baratan. Bahkan ia cenderung memandang rendah bangsanya sendiri. Dari kecil Hanafi berteman dengan Corrie du Bussee, gadis Indo-Belanda yang amat cantik parasnya. Karena selalu bersama-sama mereka pun saling mencintai. Tapi cinta mereka tidak dapat disatukan karena perbadaan bangsa. Jika orang Bumiputera menikah dengan keturunan Belanda maka mereka akan dijauhi oleh para sahabatnya dan orang lain. Untuk itu Corrie pun meninggalkan Minangkabau dan pergi ke Betawi. Perpindahan itu sengaja ia lakukan untuk menghindar dari Hanafi dan sekaligus untuk meneruskan sekolahnya.
Akhirnya ibu Hanafi ingin menikahkan Hanafi dengan Rapiah. Rapiah adalah sepupu Hanafi, gadis Minangkabau sederhana yang berperangai halus, taat pada tradisi dan adatnya. Ibu Hanafi ingin menikahkan Hanafi dengan Rapiah yaitu untuk membalas budi pada ayah Rapiah yang telah membantu membiayai sekolah Hanafi. Awalnya Hanafi tidak mau karena cintanya hanya untuk Corrie saja. Tapi dengan bujukan ibunya walaupun terpaksa ia menikah juga dengan Rapiah. Karena Hanafi tidak mencintai Rapiah, di rumah Rapiah hanya diperlakukan seperti babu, mungkin Hanafi menganggap bahwa Rapiah itu seperti tidak ada apabila banyak temannya orang Belanda yang datang ke rumahnya. Hanafi dan Rapiah dikarunia seorang anak laki-laki yaitu Syafei.
Suatu hari Hanafi digigit anjing gila, maka dia harus berobat ke Betawi agar sembuh. Di Betawi Hanafi dipertemukan kembali dengan Corrie. Disana, Hanafi menikah dengan Corrie dan mengirim surat pada ibunya bahwa dia menceraikan Rapiah. Ibu Hanafi dan Rapiah pun

sangat sedih tetapi walaupun Hanafi seperti itu Rapiah tetap sabar dan tetap tinggal dengan Ibu Hanafi. Perkawinannya dengan Corrie ternyata tidak bahagia, sampai-sampai Corrie dituduh suka melayani laki-laki lain oleh Hanafi. Akhirnya Corrie pun sakit hati dan pergi dari rumah menuju Semarang. Corrie sakit Kholera dan meninggal dunia. Hanafi sangat menyesal telah menyakiti hati Corrie dan sangat sedih atas kematian Corrie, Hanafi pun pulang kembali ke kampung halamannya dan menemui ibunya, disanaHanafi hanya diam saja. Seakan-akan hidupnya sudah tidak ada artinya lagi. Hanafi sakit, kata dokter ia minum sublimat (racun) untuk mengakiri hidupnya, dan akhirnya dia meninggal dunia.

Analisis
Pada novel Salah Asuhan ini bahasanya cukup sulit untuk dimengerti karena banyak terdapat bahasa Belanda. Akan tetapi karena ceritanya yang menarik yaitu menceritakan tentang masalah hidup yang masih sering terjadi hingga saat ini membacanya pun menjaditidak membosankan.

Tema yang terkandung dalam novel Salah Asuhan adalah perbedaan adat istiadat.

Alur yang digunakan dalam novel Salah Asuhan adalah alur maju karenapengarang menceritakan kisahnya kemasa selanjutnya. Dalam novel Salah Asuhan, pengarang bertindak sebagai orang ketiga yaitu menceritakan kehidupan tokoh-tokoh pada novel. Latar atau tempat terjadinya yaitu di Lapangan Tennis dengan bukti dari penggalan kalimat “Tempat bermain tennis, yang dilindungi oleh pohon-pohon kelepa disekitarnya, masih sunyi” (hal.1, paragraf 1), Minangkabau dengan bukti dari penggalan kalimat “Sesungguhnya ibunya orang kampung, dan selamanya tinggal di kampung saja, tapi sebabkasihan kepada anak, ditinggalkannyalah rumah gedang di Koto Anau, dan tinggallah ia bersma-sama dengan Hanafi di Solok.” Dan “Maka tiadalah ia segan-segan mengeluarkan uang buat mengisi rumah sewaan di Solok itu secara yang dikehendaki oleh anaknya.” (halaman 23, paragraf 4), Betawi dengan bukti dari penggalan kalimat “Dari kecil Hanafi sudah di sekolahkan di Betawi”(hal.23, paragraf 1) dan “Sekarang kita ambil jalan Gunung Sari, Jembatan Merah Jakarta, Corrie!” (halaman 103, Paragraf 2), Semarang dengan bukti dari penggalan kalimat “Pada keesokan harinya Hanafi sudah dating pula ke rumah tumpangan itu, dan bukan buatan sedih hatinya, demikian mendengar bahwa Corrie sudah berangkat. Seketika itu ia berkata hendak menurutkan ke Semarang.” (halaman 186, paragraf serta Surabaya dengan bukti dari penggalan kalimat “Di Surabaya mereka menumpang semalam di suatu pension kecil,mengaku nama Tuan dan Nona Han.” (halaman 144, paragraf 1). Tokoh – tokoh dalam novel Salah Asuhan yaitu Hanafi, wataknya keras kepala, kasar , Corrie, wataknya baik, mudah bergaul, Rapiah, wataknya sabar, baik, Ibu Hanafi, wataknya sabar dan baik, Tuan Du Busse, wataknya tegas , Si Buyung, wataknya penurut dan Syafei, wataknya berani. Gaya bahasa yang digunakan dalan novel Salah Asuhan ini cukup sulit untuk diartikan. Karena novel ini adalah novel lama dan didalamnya juga terdapat bahasa Belanda. Pada novel ini juga terdapat peribahasa dan majas perbandingan (perumpamaan). Adapun amanat yang terkandung dalam novel Salah Asuhan adalah janganlah melupakan adat istiadat negeri sendiri, jika ada adat istiadat dari bangsa lain, boleh saja kita menerima tapi harus pandai memilih, yaitu pilihlah adat yang layak dan baik kita terima di negeri kita.
Latar belakang penciptaan karya sastra ini berasal dari luar diri pengarang, karena pada novel ini pengarang hanya sebagai sudut pandang orang ketiga. Kondisi masyarakat saat karya sastra diciptakan yaitu berdasarkan kehidupan sosial masyarakat pada masa itu yang menceritakan seseorang yang melupakan adat istiadatnya. 

Sejarah dan latar belakang penulis novel Salah Asuhan yaitu Abdoel Moeis (lahir di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juli 1883 – wafat di Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959 pada umur 75 tahun) adalah seorang sastrawan dan wartawan Indonesia. Pendidikanterakhirnya adalah di Stovia (sekolah kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), Jakarta akan tetapi tidak tamat. Ia juga pernah menjadi anggota Volksraad yang didirikan pada tahun 1916 oleh pemerintah penjajahan Belanda.

Kesimpulan

Dalam novel Salah Asuhan ini, banyak menceritakan tentang kedurhakaan seorang anak pada ibunya. Yang mana pada zaman sekarang ini juga banyak anak yang durhaka pada ibunya. Disini juga dijelaskan bahwa adanya orang yang melupakan adat istiadatnya sendiri. Sebagaimana kita tahu bahwa remaja saat ini juga bersikap demikian

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cara Ampuh Usir Semut di Kamar

Cara Ampuh Usir Semut di Kamar

Semut emang kecil, kita injek juga bakal mati. Tapi biasanya mereka tuh munculnya barengan banget, kaya demo. Karena kecil- kecil terus banyak juga ngeliatnya...