Kisah Para Pahlawan I : Giz Kadasha – Cora

September 30, 2020

Sebagaimana setiap patriot Bellato ketahui, kemasyarakatan Cora disusun berdasarkan kasta; makin tinggi kasta seseorang, makin dekatlah ia kepada DECEM, dewa mereka. Setelah seorang Cora lahir, ia akan masuk ke dalam kasta tertentu berdasarkan keturunan dan potensial keluarganya untuk melayani DECEM (ditentukan oleh Pendeta Kuil yang menangani proses kelahiran).

Memiliki bakat, dan kemampuan yang tinggi, serta kerja keras dapat membuat seorang Cora memperoleh kedudukan yang lebih tinggi dalam kasta, namun hal ini sangat sulit dan membutuhkan proses yang panjang, sehingga perpindahan kasta termasuk peristiwa yang sangat langka.
Kasta mempengaruhi sistem pemerintahan. Kasta yang berlaku dalam pemerintahan adalah berdasarkan abilities (kemampuan); Cora dikelompokkan berdasarkan kemampuan mereka dalam profesi harian, fisik, dan dedikasi dalam melayani DECEM. Dengan ini, fungsi kasta sama seperti clan-clan kuno, dimana pendeta memiliki kasta yang lebih tinggi daripada prajurit, dan prajurit memiliki kasta di atas pekerja. Seseorang yang memiliki kemampuan lebih dalam Dark Force otomatis mendapat kasta yang lebih tinggi. Spiritualis adalah kasta tertinggi karena sebagian besar mereka terlahir dengan kekuatan Dark Force alami.
Keseluruhan populasi Cora dikelompokkan juga berdasarkan kasta, jika kamu sudah masuk kasta tertentu, maka seluruh member dalam kasta tersebut menjadi keluargamu, hubungan darah sama sekali tidak berlaku dalam pembagian kasta. Tidak boleh ada yang lebih tinggi daripada penyembahan DECEM itu sendiri, pernikahan pribadi tidak diperkenankan karena dapat menyebabkan konflik antara keluarga dan kasta. Hal ini dikarenakan Cora wajib merefleksikan dewa mereka DECEM, sehingga adalah suatu keharusan menurunkan anak-anak yang juga merupakan refleksi dari dewa mereka. Mencari pasangan yang paling sesuai untuk mempunyai anak adalah benar-benar keputusan yang penting. Anak-anak Cora dibesarkan di sekolah, dan mereka tinggal bersama orang tua mereka hanya pada saat liburan dan hari suci DECEM. Anak-anak memanggil ‘Sire’ atau ‘Maam’ kepada orang tua mereka, panggilan ayah atau ibu adalah hal yang tidak sopan di depan umum.
Vena Blaein. Tesis Tertulis: Dunia Menurut Ukuran Pandangan Cora.
Bellato, Valhalla: Klenson University Press, 10782: 229.

Dari sekian banyak rumor kisah2 kepahlawanan Cora dan Bellato, Novus Eye menuliskan kisah ini kepada seluruh patriot, informasi yang dibutuhkan mengenai pahlawan perang masing-masing bangsa. Sayangnya, dikarenakan minimnya bukti-bukti tertulis mereka, banyak detil aspek dalam kisah mereka tidak dilampirkan, termasuk salah satu fakta bahwa mereka pernah menghabiskan waktu secara bersama-sama. Ladies first (sesuai dengan pepatah masa lampau), marilah kita mulai dengan Giz Kadasha, dari Cora
Giz Kadasha tidak perlu kuatir tentang kasta. Ia dilahirkan oleh Dain, seorang spiritualis dengan kemampuan menakjubkan yang ada sepanjang sejarah Cora, dan terlihat ketika demonstrasi kemampuannya melebihi ibunya. Menjadi anak Dain tidaklah semudah yang terlihat: Dain menjadi seorang Matriach (pemimpin wanita untuk batalyon Cora) pada usia 15 tahun, sementara teman-temannya masih mempelajari dasar-dasar untuk menemukan kelas Decem yang sesuai.

Salah satu peristiwa legenda Dain yang diceritakan dalam sejarah adalah: beberapa bulan sebelum ia dilantik menjadi Matriach, ia bertemu dengan seorang Archbishop dan anggota Holy Conclave, Mana. Dikisahkan bahwa Mana mendiskusikan keabsolutan Decem, menjelaskan bahwa mempertanyakan Decem adalah hal yang boleh dipelajari, layaknya Bellato dan Accretia yang lebih logika dan rasional dibandingkan Cora, pembicaraan ini mulai mengubah iman Dain kepada Decem menjadi keraguan. Tidak ada yang tahu secara persis apa yang dibicarakan. Beberapa kolega berpendapat bahwa Mana mencoba membingungkan Dain, agar Dain dicap sebagai pemberontak, namun alasan pastinya tetap tinggal sebagai misteri.

Namun, apapun yang terjadi tidak mengubah Dain dan Mana menjadi musuh. Ketika Dain melahirkan anak kembar, ia bersikeras bahwa salah satu anaknya, Kadasha, tidak boleh menjadi seorang Pendeta Decem, walaupun jelas terlihat bahwa Kadasha memiliki kemampuan force yang besar. Dain menggunakan segala cara dan pengaruhnya untuk mencegah anaknya menapaki jalan yang sama dengannya. Rapat Suci dan mayoritas Archbishop geram dengan tindakan Dain, namun situasipun dapat ditenangkan oleh Mana, yang secara publik menyetujui keinginan Dain.
Rapat Suci telah memutuskan bahwa, jika ada seseorang yang dikaruniakan kekuatan besar namun tidak melangkah di jalan Decem, ia haruslah diasingkan. Maka Kadasha diasingkan di bagian dari planet Cora yang terpencil, yaitu Desa Bisk.
Masyarakat Bisk adalah ras yang berbeda dengan Cora, namun mereka saling bertoleransi berbagi planet dengan Cora, kadangkala Cora mengupah mereka sebagai pekerja kasar dengan bayaran yang kecil. Namun ilmuwan-ilmuwan Bellato menganggap bahwa 2 ras ini bersahabat erat, entah darimana ilmuwan-ilmuwan ini mendapat sumber risetnya.
Kadasha menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, berteman dengan orang Bisk dan menganggap mereka adalah keluarganya. Tumbuh besar jauh dari ajaran Pendeta Decem, Kadasha hanya mempelajari sisi cerah dan terang dari Decem. Ia menganggap Decem adalah bagian dari alam dan keindahan, seperti semua Cora, namun lebih penyayang dan dewata. Ia juga mulai mempertanyakan pondasi dari sosietas Cora, menganggap bahwa seharusnya semua orang dari kasta manapun, adalah sama pentingnya di mata Decem,  dan karena itulah Decem menyayangi semua orang.

Tentu saja dengan doktrin seperti itu, Kadasha menarik minat dari kasta golongan bawah, popularitasnya meningkat seiring dengan kemampuan forcenya. Tujuan awal Rapat Suci gagal total untuk membuat semua orang melupakan Kadasha.. Apakah mereka takut akan ajaran Kadasha? Apakah keberadaannya membawa bahaya? Dengan force di genggaman tangannya, virus Arcane tidak ada apa-apanya, hanya dengan kata-kata saja ia dapat membangun dukungan melebihi pencapaian bertahun-tahun Majelis Suci.

Akhirnya Majelis Suci memutuskan untuk menyingkirkan Kadasha. Setelah bernegosiasi, mereka merancang suatu muslihat untuk mengirim anak Dain, Kadasha sebagai duta negosiasi perdamaian dengan Accretia dalam salah satu kapal mereka. Tanpa panjang lebar, Majelis Suci berhasil meluluskan skenario ini tanpa adanya keberatan sepanjang rapat berlangsung.
Objek dari misi negosiasi ini tidak pernah dipublikasikan, namun pada saat yang bersamaan, tiga ras sudah merancang skenario diplomasi. Detil dari skenario-skenario ini tergolong dokumen rahasia, dan hanya petugas dan jenderal militer ranking tinggi tiga ras yang tahu. Banyak konspirasi dan teori percaya bahwa ada skenario rahasia dengan tingkat bahaya ekstrim yang bisa memusnahkan seluruh peradaban, kemungkinan salah satu murid Profesor Saldash yang mengemukakan hal itu.
Pertemuan tersebut tidak berjalan damai layaknya negosiasi perdamaian, pihak Cora tidak pernah mempublikasikan detilnya. Kadasha yang sadar bahwa hidupnya dalam bahaya, segera meloloskan diri dari kapal Accretia. Terlebih lagi, armada utama kapal Accretia yang mengejar Kadasha dipiloti oleh Lothan the Third, pahlawan Accretia yang sangat terkenal. Segera setelah kapsul Kadasha jatuh di Novus, kapal Lothan mengikuti, dan seluruh armada Accretia segera mencari lokasi jatuhnya kapsul Kadasha.
Dikisahkan bahwa Sitz BeHammer, pahlawan Bellato, menyaksikan jatuhnya kapsul Kadasha ketika ia sedang melakukan eksplorasi geografi Novus, dan iapun mencoba menolong Kadasha. Kelanjutannya tidak jelas secara detil, namun terlihat kapal Lothan jatuh beberapa saat sebelum seluruh armada Accretia memasuki atmosfer Novus. Ketika seluruh lokasi kejadian ditelusuri, tiga pahlawan ini tidak pernah ditemukan.
Headlines of the Decem Times – Special edition
Kadasha secara formal dinyatakan KIA (Killed in Actions)

Tidak hanya planet ini, namun seluruh ras di seluruh galaksi berduka atas berita sore hari ini dimana duta besar Majelis Suci dinyatakan terbunuh dalam misi.

 Putri dari Matriach Dain telah dinyatakan MIA (Missing in Actions) untuk beberapa bulan hingga sekarang, setelah kapsul penyelamat dari kapal admiral Accretia jatuh di planet Novus. Walaupun ia berhasil meloloskan diri dari kapal Accretia, perwakilan Rapat Suci menjabarkan bukti-bukti yang tidak memungkinkan bahwa Kadasha selamat dari liarnya planet Novus.
“Decem berkatilah jiwanya sehingga ia beristirahat dalam kejayaan dengan iman kebenaran”, demikian kata-kata penutup dari majelis.
Setelah beberapa bulan panjang kehampaan dan kesedihan oleh kematian Kadasha.. Keajaiban terjadi, para pengikut Kadasha mendapati bahwa Kadasha masih hidup. Kepulangannya yang sangat tiba-tiba ini ditutup sebagai dokumen rahasia, beberapa sumber menyatakan bahwa: Kadasha sendiri sepertinya menemukan jalan untuk pulang ke Cora, ia kemungkinan besar menghabiskan waktunya di Novus bersama BeHammer dan Lothan, hubungan antara para petinggi Cora dan Kadasha sedikit melunak setelah ia kembali.
Majelis Suci beradaptasi dengan keberadaan Kadasha di Capital City dan tidak lagi mencoba untuk menjatuhkan popularitasnya, karena tidak perlu, putri Dain mengadaptasi sikap yang sangat sederhana dan rendah hati, walaupun kini ia mendapat penghormatan yang sangat besar sepulang dari Novus. Tak lama setelah ia pulang, ia mengajukan diri untuk kembali ke Novus, sebagai duta dan perwakilan pasukan Cora. Sejak itu, Kadasha melakukan yang terbaik untuk menolong patriot Cora meningkatkan kemampuan mereka, kadangkala memberikan catatan-catatan penting mengenai patriot yang berdedikasi dari sekian individual.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2021

2021

Sudah beberapa hari sejak tahun 2021 dan aku masih belum nulis apa- apa di tahun ini. Jadi ini tulisan pertamaku di tahun 2021, yay~ Happy New Year~ Sudah...